Upaya Meningkatkan Aktivitas Belajar Ipa Fisika Melalui Pembelajaran Berbasis Demokrasi Dengan Membentuk Dynamic Group Pada Siswa Kelas Viid Smp Negeri 1 Pare Tahun Pelajaran 2005/2006

Upaya Meningkatkan Aktivitas Belajar Ipa Fisika Melalui Pembelajaran Berbasis Demokrasi Dengan Membentuk Dynamic Group Pada Siswa Kelas Viid Smp Negeri 1 Pare Tahun Pelajaran 2005/2006

 

Oleh: Dra Wiwik Suharti

 

Abstrak

 

Pada saat proses belajar mengajar berlangsung, seorang guru tidaklah mudah menciptakan kondisi yang kondusif bagi semua siswa. Ada siswa yang proaktif, ada siswa yang tidak banyak bicara (pendiam) tetapi memiliki kemampuan akademik di atas temannya, dan terdapat pula siswa yang banyak bicara tetapi meiliki kemampuan rendah. Bahkan, ada siswa dengan kemampuan akademik menengah-ke bawah merasa tertekan sebab materi pelajaran IPA Fisika sarat dengan teori, konsep, rumus-rumus, dan praktikum yang rumit bahkan sulit dipahami. Untuk itu, melalui penelitian ini dirumuskan suatu masalah: Bagaimana cara meningkatkan aktivitas belajar IPA Fisika melalui pembelajaran berbasis demokrasi dengan membentuk dynamic group pada siswa kelas VIID di SMPN 1 Pare. Tujuan penelitian adalah: (1) meningkatkan keaktifan, daya kreativitas, dan ide-ide serta inspirasi siswa dalam pembelajaran IPA Fisika; (2) mengembangkan pembentukan atmosfir kelas yang lebih nyaman dan pembelajaran menjadi tidak menjenuhkan; (3) menghargai Continue reading

Advertisements

Penelitian Tindakan Kelas—Diagnosis dan Penetapan Masalah

Penelitian Tindakan Kelas—Diagnosis dan Penetapan Masalah

Oleh: Prof. Dra. Herawati Susilo, M.Sc., Ph.D. dan Dr. Kisyani Laksono


Masalah PTK yang merupakan penelitian kolaborasi antara dosen dan guru di sekolah hendaknya berasal dari persoalan-persoalan praktis yang dihadapi guru di kelas. Oleh karena itu, diagnosis masalah hendaknya tidak dilakukan oleh dosen lalu ”ditawarkan” kepada guru untuk dipecahkan tetapi sebaiknya dilakukan bersama-sama oleh dosen dan guru. Pada kenyataannya dosen dapat mengajak guru untuk berkolaborasi melakukan PTK dan menanyakan masalah-masalah apa yang dihadapi guru yang mungkin dapat diteliti melalui PTK. Guru yang telah berpengalaman melakukan penelitian tindakan kelas mungkin dapat langsung mengatakan permasalahan yang dihadapinya yang mungkin dapat diteliti bersama dan kemudian membahas masalah tersebut dengan dosen.


Lain halnya dengan guru yang belum berpengalaman dalam PTK. Guru tersebut mungkin belum dapat secara langsung mengemukakan permasalahan yang mungkin dapat diteliti bersama dosen. Dalam hal ini dosen perlu meminta izin kepada guru untuk hadir di kelas dan mengamati guru mengajar. Setelah pembelajaran berakhir dosen dapat terlebih dahulu menanyakan kepada guru masalah apa yang dirasakan guru pada saat pembelajaran sebelum mengusulkan salah satu permasalahan yang dipikirkan dosen. Dosen baru-boleh mengajukan permasalahan bila guru tidak dapat mendeteksi adanya masalah di kelasnya.


Di dalam mendiagnosis masalah untuk PTK ini guru dan dosen harus ingat bahwa tidak semua topik penelitian dapat diangkat sebagai topik PTK. Hanya masalah yang dapat “dikembangkan berkelanjutan” dalam kegiatan harian selama satu semester atau satu tahun yang dapat dipilih menjadi topik. “Dikembangkan berkelanjutan” berarti bahwa setiap waktu tertentu, misalnya 2 minggu atau satu bulan, rumusan masalahnya, atau hipotesis tindakannya, atau pelaksanaannya sudah perlu diganti atau dimodifikasi. Dalam kegiatan di kelas, guru dapat mencermati masalah-masalah apa yang dapat dikembangkan berkelanjutan ini dalam empat bidang yaitu yang berkaitan dengan pengelolaan kelas, proses belajar-mengajar, pengembangan/penggunaan sumber-sumber belajar, maupun sebagai wahana peningkatan personal dan profesional. Continue reading

Penelitian Tindakan Kelas—Bentuk dan Skenario Tindakan, Serta Pengembangan Instrumen untuk Mengukur Keberhasilan Tindakan

Penelitian Tindakan Kelas—Bentuk dan Skenario Tindakan, Serta Pengembangan Instrumen untuk Mengukur Keberhasilan Tindakan

Oleh: Prof. Dra. Herawati Susilo, M.Sc., Ph.D. dan Dr. Kisyani Laksono

 

Bentuk dan Skenario Tindakan


Gagas pendapat perlu dilakukan mengenai tindakan apa saja yang dapat memecahkan masalah yang dihadapi akan menghasilkan banyak alternatif tindakan yang dapat dipilih. Dosen dan guru perlu membahas bentuk dan macam tindakan (atau tindakan-tindakan) apa yang kira-kira paling dikehendaki untuk dicoba dan dilaksanakan dalam kelas. Bentuk dan macam tindakan ini kemudian dimasukkan dalam judul usulan penelitian yang akan disusun bersama oleh dosen dan guru. Tindakan yang dipilih dapat disebutkan sebagai suatu nama tindakan (misalnya penugasan siswa membaca materi pelajaran 10 menit sebelum pembelajaran) atau dalam bentuk penggunaan salah satu bentuk media pembelajaran (misalnya penggunaan peta konsep, penggunaan lingkungan sekitar sekolah, penggunaan sungai, dan seterusnya), atau dapat pula dalam bentuk suatu strategi pembelajaran (misalnya strategi pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw atau STAD atau TGT atau GI, strategi pembelajaran berbasis masalah dan seterusnya). Bagaimana tindakan tersebut akan dilaksanakan dalam PTK perlu direncanakan dengan cermat. Perencanaan pelaksanaan tindakan ini dituangkan dalam bentuk Rencana Pembelajaran (RP) atau dalam bentuk Skenario Pembelajaran. Dalam makalah ini dilampirkan (Lampiran 2) contoh salah satu RP untuk pembelajaran dengan Problem Posing (Chotimah dkk., 2005).

 


Pengembangan Instrumen untuk Mengukur Keberhasilan Tindakan


Instrumen yang diperlukan dalam penelitian tindakan kelas (PTK) haruslah sejalan dengan prosedur dan langkah PTK. Instrumen untuk mengukur keberhasilan tindakan dapat dipahami dari dua sisi yaitu sisi proses dan sisi hal yang diamati. Continue reading

PTK ( Penelitian Tindakan Kelas )—Butir-Butir Penting

PTK ( Penelitian Tindakan Kelas )—Butir-Butir Penting.

 

Karakteristik PTK :
1. On the job problem oriented
2. Problem Solving oriented
3. Improvement oriented
4. Multidata oriented
5. Partisipatory oriented
6. Siklus: (1) perencanaan atau planning,  (2) pelaksanaan tindakan atau acting, dan (3) pengamatan dan refleksi atau observasing-reflekting.


Manfaat PTK :
1. Guru menjadi dan peka terhadap masalah
2. Terjalinnya kerjasama untuk meningkatkan mutu KBM
3. Perhatian terhadap siswa terus menerus
4. Mutu diri dan kinerja
5. Capai tujuan KBM


Prinsip PTK (Hopkins, 1993) :
1. Tidak menggangu komitmen dan tugas utama guru yaitu menyelenggarakan pembelajaran yang berkualitas
2. Melaksanakan PTK pada dasarnya merekam dan melaporkan proses dan hasil pembelajaran secara sisematik dan terkendali menurut kaidah ilmiah
3. Kegiatan penelitian yang dilakukan merupakan bagian integral dari pembelajaran dan harus tetap bersandar pada alur dan kaidah ilmiah
4. Masalah yang dipecahkan adalah masalah pembelajaran riil dan merisaukan 5. Konsistensi sikap dan kepedulian dalam memperbaiki dan meningkatkan kualitas pembelajaran sangat diperlukan
6. Cakupan masalah tidak hanya dibatasi pada masalah pembelajaran di ruang kelas


Bidang kajian PTK :
1. Pembelajaran di kelas : cara belajar dan proses
2. Desain dan strategi PBM : pengelolaan prosedur dan metode
3. Alat bantu,media dan sumber belajar
4. Sistem evalusai PBM
5. Implementasi kurikulum


Prosedur PTK :
1. Permasalahan
2. Alternatif pemecahan masalah
3. Pelaksanaan tindakan 1
4. Observasi 1
5. Analisis data 1
6. refleksi 1
7. Terselesaikan ? (siklus 1)
8. Tidak? Alternatif pemecahan (rencana tindakan 2)
9. Pelaksanaan tindakan 2
10. Observasi 2
11. Analisis data 2
12. Refleksi 2
13. Terselesaikan ? Siklus 2
14. Tidak ? rencana tindakan selanjutnya


Menemukan Masalah PTK :
1. Merenung
2. Berfikir tentang apa yang mungkin dapat diperbaiki
3. Pikirkan tentang beberapa kelompok masalah pembelajaran
4. Pilih masalah yang layak
5. Pilih masalah yang tidak terlalu luas dan sempit
6. Pilih masalah yang strategis
7. Pilih masalah yang anda senangi
8. Pilih masalah yang anda kuasai


Langkah PTK :
1. Identifikasi dan analisis masalah
2. Merumuskan masalah
3. Merumuska tindakan
4. Melaksanakan tindakan
5. Melakukan refleksi (analisis,memarik kesimpulan dll)


Sistematika Laporan PTK :
1. Latar Belakang Masalah
2. Perumusan Masalah
3. Tujuan Penelitian
4. Manfaat Penelitian


Latar Belakang Masalah PTK :
1. Menulis kenyataan yang ada
2. Menulis harapan yang akan di tuju
3. Adanya masalah
4. Adanya solusi
* Identifikasi masalah
* Pembatasan masalah
* Adanya solusi

 

Perumusan masalah PTK :
Dikembangkan dari identifikasi dan pembatasan masalah

Tindakan Kelas sebagai Salah Satu Alternatif Pengajaran Menyimak dalam PBIPA

Tindakan Kelas sebagai Salah Satu Alternatif Pengajaran Menyimak dalam PBIPA

Nyoman Merdhana

IKIP Negeri Singaraja, Bali

Abstrak

Salah satu aspek keterampilan yang perlu disajikan dalam pengajaran Bahasa Indonesia untuk orang asing (PBIPA) adalah keterampilan menyimak. Pengajaran menyimak dalam PBIPA ini salah satu cara yang bisa ditempuh adalah melalui penelitian tindakan kelas (action research) seperti yang dikembangkan Carr & Kemmis (1986) dan juga Hopkins (1985). Penelitian tidakan kelas selanjutnya disebut tindakan kelas. Tindakan kelas adalah suatu bentuk pengajaran penelitian atua inkuiri melalui refleksi diri yang dilakukan oleh perserta pendidikan tertentu (misalnya guru, siswa, dan atau kepala sekolah) untuk memperbaiki rasionalitas dan kebenaran serta keabsahan dari pemahaman, kegiatan, dan situasi berbagai kegiatan, yaiture feleksi awal = perencanaan = tindakan = observasi = refleksi = dan seterusnya hingga mencapai hasil yang memuaskan.

Dengan prosedur ini mahasiswa (siswa) perlu dites terlebih dahulu mengenai tes diagnosis untuk menemukan masalah yang perlu dibina atau dikembangkan. Dari hasil tes ini direncanakan tindakan yang akan dipilih dengan pertimbangan yang matang. Selanjutnya diadakan tindakan dan observasi selama tindakan berlangsung. Yang mengoservasi bisa dilakukan oleh orang lain atau dilakukan oleh guru sendiri. Kemudian dilakukan evaluasi. Hasil evaluasi dan hasil observasi ini selanjutnya dijadikan bahan refleksi, apakah perlu ada perbaikan atau tidak. Untuk melengkapi data evalausi dan observasi ini, bisa juga dilakukan wawancara kepada siswa. Demikian seterusnya, dilakukan tindakan melalui beberapa sirklus. Model pembelajaran ini bisa juga diterapkan untuk bidang ajaran lainnya.
 
 
Biodata:

I Nyoman Merdhana, lahir di Bangli (Bali) tahun 1950. Pendidikan terakhir adalah Pasca Sarjana IKIP Malang pada Program Studi Pendidikan Bahasa (S2). Sebagai dosen tetap pada Program Studi Pendidikan Bahasa Sastra Indonesia dan Daerah IKIP Negeri Singaraja. Sejak tahun 1998 membina Pengajaran Bahasa Indonesia untuk Orang Asing (BIPA) di IKIP Singaraja.

Model Pembelajaran Langsung-Dukungan Riset Tentang Keefektifan Mengajar Guru

MODEL PEMBELAJARAN LANGSUNG-DUKUNGAN RISET TENTANG KEEFEKTIFAN MENGAJAR GURU

DIRECT INSTRUCTION-TEACHER EFFECTIVENESS RESEARCH SUPPORT

 

Sejumlah akar-akar sejarah dan teori bergabung bersama-sama menyediakan dukungan dan rasional untuk model pembelajaran langsung. Beberapa aspek dari model pembelajaran langsung sebenarnya berasal  dari prosedur-prosedur pelatihan yang dikembangkan indutri dan militer. Barak Rosenshine dan Robert Stevens(1986), contohnya, melaporkan bahwa mreka menemukan sebuah buku yang dipublikasikan pada tahun 1945 yang berjudul Bagaimana Menginstruksi telah mengandung ide-ide yang berhubungan dengan model pembelajaran langsung. Untuk tujuan kita di sini, bagaimanapun, kita akan mendeskripsikan tiga teori tradisional yang menyediakan rasional untuk penggunaan secara kontemporer model pembelajaran langsung, yaitu: behaviorisme (teori belajar tingkah laku); teori belajar sosial, dan riset-riset tentang kefektifan guru dalam mengajar.

 

A number of historical and theoretical roots come together to provide the rationale and support for direct instruction. Some aspects of the model derive from training procedures developed in industrial and military setting. Barak Rosenshine and Robert Stevens (1986), for example reported that they found a book published in 1945 entitled How to Instruct that included many of ideas associated with direct instruction. For our puposes here, however, we will decribe three theoretical tradition that provide rationale for contemporary use of direct instruction: behaviorism, social learning theory, and teacher effectiveness research.

 

Riset Tentang Keefektifan Mengajar Guru

Dukungan empiris untuk model pembelajaran langsung datang dari berbagai lapangan. Tetapi, dukungan yang paling bagus adalah dari model-model keefektifan kelas dari penelitian keefektifan guru di kelas yang dilakukan sekitar tahun 1970an dan tahun 1980an, sebagai suatu jenis penelitian yang mempelajari hubungan antara tingkah laku guru dengan perolehan belajar siswa.

 

Teacher Effectiveness Reasearch

The empirical support for the direct instruction model comes from many fields. However, the clearest empirical support from the model’s classroom effectiveness comes from the teacher effectiveness research conducted mainly in the 1970s and 1980s, a type of research that studied the realtionships between teacher behaviors and student achievement. Continue reading